Assalamualaikum afwan ukhti semuanya..
Ini
postingan pertama saya monggo
disimak semoga bermanfaat
Postingan
pertama ini saya putuskan untuk
mempeosting tentang perkembangan remaja islam di dunia , mungkin buat kalian ,
bro n sis , ini adalah suatu pelajaran psikologi buat kita kita di zaman
labilnya kitaa , yang harus bisa tahan hawa nafsu karena saat remaja ini
.ayolah buat kalian yang sekarang belum belajar untuk berhijab , mulailah
sekarang juga toh kalo bukan sekarang , mau kapan lagi , kalian mau nunggu
sampai tubuh kalian di balut kain mori ?
Nih aku
kasih artikel sekilas tentang perkembangan remaja islam..
Menggagas
pendidikan remaja idealnya tetap mengacu pada kondisi remaja kontemporer,
sehingga solusi yang ditawarkan tidak tercerabut dari realitas yang ada. Selain
itu, kita juga mencari jawaban atas beberapa pertanyaan mendasar seperti
berikut: Siapa sesungguhnya kelompok usia yang disebut remaja itu? Apa
karakteristiknya? Dan bagaimana situasi yang mereka hadapi pada hari ini, baik
secara psikologis maupun sosial?
Tidak ada
definisi serta batasan usia yang baku untuk kelompok usia yang biasa disebut
remaja. Namun secara umum, remaja biasanya dianggap sebagai kelompok usia
peralihan antara anak-anak dan dewasa, kurang lebih antara usia 12 dan 20
tahun.2 Hilgard menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga aspek penting yang
menandai masa remaja: 1) Terjadinya perubahan fisik (berkembangnya hormon dan
organ-organ seksual), 2) Adanya pencarian dan pemantapan identitas diri, dan 3)
Adanya persiapan menghadapi tugas dan tanggung jawab sebagai manusia yang
mandiri.3
Fase usia
remaja sering dianggap sebagai fase yang sangat tidak stabil dalam tahap
perkembangan manusia. G.S. Hall menyebutnya sebagai strum und drang ‘masa
topan badai,’4 sementara James E. Gardner menyebutnya sebagai masa turbulence
(masa penuh gejolak). Penilaian ini tentu berangkat dari realitas
psikologis dan sosial remaja.
Sebenarnya,
sejauh manakah gejolak yang dialami oleh remaja pada hari ini? Jika
persoalan-persoalan remaja di dalam dan di luar negeri dihimpun
sebanyak-banyaknya, tentu data-data itu akan mengejutkan orang yang
mengamatinya. Sementara, secara kualitatif dan kuantitatif, persoalan-persoalan
remaja tadi tampaknya terus meningkat dari hari ke hari.
Remaja-remaja
sekarang ini semakin akrab dengan persoalan seks, kekerasan, obat-obatan, dan
problem psikologis. Perilaku seks remaja modern semakin bebas dan permisif.
Riset Majalah Gatra beberapa tahun lalu memperlihatkan bahwa 22 % remaja
menganggap wajar cium bibir, dan 1,3 % menganggap wajar hubungan senggama.
Angka ini memang relatif kecil, tetapi penelitian-penelitian lain menunjukkan
angka yang lebih tinggi. Sebagai contoh, 10 % dari 600 pelajar SMU yang
disurvey di Jawa Tengah mengaku sudah pernah melakukan hubungan intim.5 Malah
penelitian-penelitian sebelumnya juga memperlihatkan angka yang sudah cukup
tinggi.6
Beberapa
remaja di Semarang pernah tertangkap basah oleh aparat dan warga karena
melakukan pesta seks dan mabuk-mabukan, sementara yang lainnya di Ujung Pandang
meninggal dunia di mobil setelah melakukan hal yang sama. Banyak dari mereka
melakukan itu semua bukan karena adanya desakan ekonomi, melainkan untuk
mencari kepuasan semata.7 Perilaku seks remaja-remaja di pedesaan ternyata juga
tidak terlalu jauh berbeda dengan perilaku rekan-rekan mereka di perkotaan.
Contoh-contoh
statistik serta kasus di atas tentu tidak sebesar dan seserius yang terjadi di
Eropa dan Amerika Serikat (lihat Lampiran 1), tapi ada indikasi bahwa kebebasan
seksual semakin gencar masuk ke tanah air bersama dengan tersebarnya budaya
global. Media massa dan elektronik yang banyak mengandung unsur seks dan
kekerasan, begitu pula komik-komik porno, begitu mudah diakses oleh kalangan
remaja dewasa ini. Kini, anak-anak kelas 4 hingga 6 SD sudah mengajukan
pertanyaan-pertanyaan yang sangat dewasa tentang seks, seperti ”Apakah sex
swalayan itu?” dan ”Bagaimana cara melakukan seks?”8 Sementara, beberapa remaja
puteri usia SMU merasa tak segan difoto payudara, atau malah tubuh
telanjangnya, dengan handphone, semata-mata karena bangga dengan keindahan
tubuhnya sendiri.9
Angka
kekerasan serta konsumsi rokok dan obat-obatan terlarang juga cukup tinggi di
kalangan remaja Indonesia. Data tentang tawuran di Jakarta pada paruh pertama
tahun 1999, sebagaimana diberitakan oleh Media Indonesia, memperlihatkan
bahwa rata-rata dua anak tewas setiap bulannya karena perkelahian antar
pelajar. Pada tahun yang sama, sebuah penelitian tentang narkoba menunjukkan
bahwa paling tidak 60-80% murid SMP di seantero Yogya pernah mencicipi
narkotika, sementara di wilayah-wilayah pemukiman setidaknya 10 anak baru gede
(ABG) di tiap RT pernah merasakan narkotika.10 Angka ini juga cukup tinggi di
Jakarta dan kota-kota besar lainnya. Bahkan narkotika dalam bentuk permen
pernah beredar di Jakarta Timur dengan target konsumen anak-anak SD.11
Di beberapa
negara asing, seperti di Amerika Serikat dan Hongkong, tingkat kerentanan
psikologis anak-anak remaja sangat tinggi. Majalah News Week pernah
mengangkat seriusnya persoalan remaja di Amerika pasca penembakan yang
menimbulkan kematian lebih dari sepuluh anak di sekolah Columbine.12 Salah satu
survey yang diangkat oleh majalah itu menyebutkan bahwa satu dari empat remaja
di Amerika Serikat berpikiran bunuh diri.13 Survey American Academy of
Pediatrics belum lama ini malah menunjukkan bahwa 60% pelajar menyatakan
bahwa mereka pernah berpikiran untuk bunuh diri, dan 9% di antaranya pernah
mencobanya paling tidak satu kali.14 Sementara itu di Hong Kong, satu dari tiga
remajanya berpikiran untuk bunuh diri.
Sumber
:internet
Masyaallah naudzubillahimindzalik
jangan sampe remaja yang ada dikalangan kita.hati hati untuk kalian para remaja
, jangan mudah terpancing dengan bujukan syetan yang terkutuk.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar